Sabtu, 22 Januari 2011

Islam Agama Pengawal Prilaku Moral Pemeluknya

Islam Agama Pengawal Prilaku Moral Pemeluknya

Agama islam mementingkan kualitas amal. Seseorang harus terlihat pada moralnya dalam berhubungan dengan Allah SWT. Sesama alam semesta. Kualitas hubungan menaik dengan Allah harus tampak pula pada dimensi hubungan mendatar dengan sesama makhluk dan dengan lingkungan alam. Harmonis hubungan tiga dimensi ini merupakan syarat tegaknya bangunan moral yang akan bertahan lama termasuk didambakan, akan berkembang di bumi.Dalam perspektif diatas seseorang menghindari bahwa ia telah meiliki hubungan baik dengan Allah jika pergaulannya dengan sesama umat dimuka bumi berada dalam kondisi kumuh dan penuh curiga.

Al-Quran menegaskan : ”Ditimpakan kehinaan atas diri mereka dimana pun berada, kecuali (mereka yang bergantung) dengan tali Allah dan tali manusia”.(Q.S.Ali-Imran :112). Sesungguhnya ajaran agama yang fungsional dengan demikian adalah yang mampu menjaga hubungan erat dengan Allah serta dirasakan pula sentuhan positifnya pada dimensi mendatar dalam format persaudaraan yang ikhlas tulus antar pemeluk beriman.Agama yang benar-benar fungsional adalah agama yang mampu mengawal prilaku moral pemeluknya ialah Islam yang kamil(sempurna).Agama yang disalah gunakan untuk membela kepentingan seseorang, secepatnya dimasukkan kedalam museum sejarah.
Selanjutnya bila kondisi moral seseorang diteropong dengan lebih cermat tidaklah salah disimpulkan bahwa agama belum berfungsi secara benar dan efektif dengan kehidupan kolektif secara keseluruhan.Terlalu banyak penyimpangan bahkan kejahatan moral, tidak jarang atas nama kebenaran. Ini tidak lain dari perbuatan orang menginjak kebenaran hakiki untuk kepentingan-kepentingan rendah sesaat tanpa merasa berdosa dan menyesal, tidak terpikirkan hidup sesudah mati di akhirat semuanya akan dipertanggung jawabkan secara terinci satu persatu.Perbuatan seseorang mencabuli apa yang dikatan terjadi keretakan antara kata dan laku. Allah menegur : ” Mengapa kamu berkata tentang sesuatau kata apa yang akamu tidak kamu lakukan “.(Q.S. Ash-Shaff :2-3).
Teguran ini sudah disampaikan sejak puluhan abad yang lalu, beralamat terhadap pemeluk beriman. Iman bukan untuk digembur-gemburkan, tetapi untuk dibuktikan dalam perbuatan baik yang dirasakan semua orang.
Perbuatan baik inilah yang menjadi indikator utama, apakah seseorang beriman atau tidak, yaitu beriman secara autentik, bukan iman yang dibungkus dalam jubah kepalsuan, iman basa-basi. Agama yang fungsional adalah agama yang mampu mengawinkan antara spiritual dengan perbuatan baik dan mulia dalam kehidupan bersama.
Agama Islam sebagai agama rahmat, berarti Islam an pemeluknya senantiasaa jadi pengawal prilaku moral pemeluknya. Bukan Islam yang erat kepentingan politik dan pribadi. Islam sebagian pemeluknya menjadi gamang kapan prilaku moral kurang mencerminkan moral mulia. “ Wama arsalnaka ill rahmatan lilla’lamin”. ” Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk(menjadi) rahmat begi semesta alam :”(Q.S. Anbiya : 107). Sesungguhnya umat pengikut yang mulia Muhammad SAW. Dapat menunjukkan diri dan ditengah kehidupan bersama jadi rahmat. “Sebaik-baiknya manusia yang ada manfaatnya bagi orang lain”. (Hadis Bukhari).
Jika ada masalah diselesaikan secara ikhlas dan islah dibungkus moral mulia diterima semua pihak sebagaimana layaknya pengikut Muhammad Rasulullah SAW. Bukan membesar-besarkan menjadi sesuatu yang semakin rumit dan gaduh.
Inilah artinya Islam agama pengawal prilaku moral pemeluknya. (berbagai sumber)…..(bk).

Bekali Keluarga Dengan Agama

– Hidup yang indah akan tercipta apabila di isi dengan prilaku yang indah pula, kita setuju dengan pandangan tersebut, bukankah Rasulullah Saw di utus kepermukaan bumi sebagai tauladan yang baik dan berakhlak indah ?. Seorang pribadi muslim yang mulia adalah seorang yang mampu menghiasi diri, keluarga dan masyarakatnya bukan hanya dengan menghiasi pribadinya (jasmani) atau perhiasan dunia belaka. Namun, juga akan terus berusaha menghiasi dan mentadaburi perhiasan jiwa dan nuraninya yang tergambar dalam Akhlakul Karimah (Akhlak Mulia). Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak akan menggambarkan lancarnya komunikasi antar mereka.

Tanpa di mintapun anak akan mengungkapkan seluruh isi hati & aneka masalah yang di hadapi kepada orang tuanya. Mereka selalu bisa berlari pada orang tuanya, yang juga akan selalu siap di sisi anaknya. Dengan hubungan semacam ini, fungsi & kontrol orang tua bisa berjalan dengan peran aktif dari si anak sendiri.
Pengenalan resolusi konflik misalnya ternyata sangat ampuh untuk di terapkan dalam diri sendiri dan pikiran anak-anak hal ini di karenakan, kesalahan dan kekhilafan merupakan bagian dari hidup yang sulit untuk di hindari, tak ada manusia yang tak pernah salah dalam hal sekecil apapun.
Biasanya manusia menyesali perbuatan salahnya, manakala timbul kesadaran dan keinsyafan. Akan tetapi kesadaran dan keinsyafan tersebut tidak akan muncul begitu saja, tanpa ada upaya untuk menumbuhkanya baik melalui proses berfikir maupun pengalaman-pengalaman pahit yang pernah di alami, serta dari pelajaran hidup plus hidayah dari Allah Swt. Hal ini pun akan terjadi dalam hidup dan keseharian dari anak-anak kita.
Sistim Resolusi konflik adalah upaya memecahkan konflik. Konflik pasti terjadi dalam hubungan sesama manusia dalam berbagai tingkatannya. Ketika melepas anak bergaul, potensi konflik pasti ada. Tidak jarang anak-anak menyelesaikan konflik antara mereka dengan cara kekerasan. Dan tidak heran bila kemudian tawuran pelajar bahkan sampai merambah pada kerusuhan yang melibatkan suatu daerah dengan daerah lain begitu lazim terjadi belakangan ini. Karena yang mereka tahu tentang pemecahan konflik adalah dengan kekerasan dan adu otot. Maka pembekalan resolusi konflik ini sangat penting untuk anak-anak dalam menapaki masa depanya.
Resolusi konflik yang paling baik dilakukan adalah pemecahan masalah dengan cinta & kasih sayang. Resolusi semacam ini melahirkan sifat Empati pada anak misalnya, ajaklah mereka untuk menempatkan diri pada posisi temannya dengan contoh yang baik, transparan, kasih sayang dan mudah untuk di mengerti.
Memang tidak semua anak bisa langsung mengerti dan bisa mengikuti pemecahan masalah semacam ini. Namun, kalau tidak dilatih, anak-anak kita tidak akan pernah tahu untuk menggunakan resolusi konflik ini dalam lingkungan pergaulannya. Seperti satu pepetah Arab menyatakan ‘Manlam yataalam fisiqarihilam yataqaddam fi kibarihi” Barang siapa tidak belajar pada waktu kecil, ia tidak akan maju pada waktu dewasa. Jelas belajar itu sangat penting untuk di terapkan pada usia dini dan remaja sehingga dewasa bisa memetik hasilnya dan hari tua akan akan di nikmati dengan bahagia.
Selain hal diatas informasi yang benar berdasarkan realita sangat di butuhkan dalam keseharian dan dalam proses pembentukan karakter anak. Bayangkan bila kita dilepas di suatu tempat tanpa informasi apapun. Kalaupun ada informasi ternyata keliru. Apa yang terjadi ?. Kita akan tersesat tidak tahu jalan pulang.
Demikian pula dengan anak-anak yang mau tidak mau akan terjun kepergaulan, tapi tidak punya informasi yang up to date tentang dunianya yang semakin luas itu. Maka orang tua sangat perlu membekali anak-anak dengan berbagai informasi yang benar tentang dunia mereka. Jangan hanya membeberkan hal-hal yang baik-baik saja, sebaiknya segala hal yang burukpun perlu di informasikan pada mereka.
Yang kita khawatirkan, bila sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, sedangkan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, jelas mereka jadi tidak siap mengahadapinya. Misalnya, kurangnya pengetahuan akan bahaya narkoba, minuman keras, tawuran, sifat iri dengki atau kejahatan yang lainya.
Seperti yang di sabdakan Rasulullah Saw “ Jauhilah dirimu dari sifat iri karena sifat iri itu akan memakan seluruh kebaikan, sebagai mana api memakan dan melahap kayu bakar yang kering”. (Hr. Abu Daud). “ Telah melanda kepadamu penyakit umat-umat terdahulu, yaitu kebencian, kedengkian, hasad, iri, sombong. Yaitu hal yang mencukur (artinya mencukur) agama, bukan mencukur rambutnya. ” (Hr. Ahmad dan Nasai). Hadis Rasulullah Saw di atas, tidak sekedar untuk informasi dan tiori saja tapi harus di realisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ajari terus anak dengan sabar dan tawakal, bagaimana menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada nantinya. Misalnya, ajari anak cara menolak bila ada teman yang menawarinya untuk mengkomsumsi Narkoba, miras dan benda-benda terlarang dan berbahaya lainya, yang sudah sangat meresahkan dan mencemaskan bukan hanya para orang tua saja tapi, juga keresahan yang di alami oleh bangas dan negara sekarang ini.
Tanamkan pada diri sendiri dan pada diri si anak, bahwa sifat iri dengki, hasad, menfitnah merupakan sifat tercela yang sangat di benci oleh Allah Swt. Jelaskan pada anak bahwa sifat-sifat tersebut akan membuat hati dan pikiran tidak tenang karena selalu di selimuti oleh pikiran jahat.
Oleh karena itu hindarilah prilaku tersebut dan tanamkanlah pada diri dan diri si anak sifat amanah, manusiawi, baik sangka (Huznuzon) dan tancapkanlah dalam hati dan pikiran untuk selalu bersyukur atas semua rezeki yang telah di peroleh (Qana’ah). Dan ingat jangan selalu melihat kelebihan, kekurangan dan kejelekan orang lain saja, koreksilah dirimu sendiri.
Suatu keadaan yang sering (ter-di) abaikan terhadap perkembangan pikiran, sikap dan mental adalah, menanamkan etika dan empati ke dalam diri sendiri dan diri anak-anak, padahal cara ini sangan membantu akan perkembangan jiwa dan kesederhanaannya. dengan mengenalkan diri sendiri sebagai pendidik (orang tua, guru).
Dan kenalkan anak pada berbagai contoh masyarakat yang mungkin mereka temui dalam pergaulan mereka. uraikan, bahwa tidak semua orang bisa hidup sejahtera dan serba kecukupan. Jangan hanya membawa anak jalan-jalan ke mal-mal, super market atau tempat rekreasi indah lainnya. sekali-sekali ajaklah mereka ke tempat orang-orang yang tidak punya (kaum duafa), keperkampungan kumuh dsb. Biarkan mereka melihat bagaimana orang-orang ini melakukan aktivitas sehari-hari dan melihat anak-anak lingkungan seperti ini bermain. dari kegiatan ini, akan timbulah rasa empati.
Sebenarnya sukses atau tidaknya pergaulan tergantung pada kemampuan seseorang untuk berempati. Semakin terasah rasa empatinya maka semakin mudah ia bergaul. Etika pergaulan yang paling utama adalah memahami sudut pandang orang lain. Dengan empati ia dapat merasakan bagaimana rasanya bila seseorang sudah kecanduan narkoba bahkan sampai meningal, bagaimana rasanya hidup dalam penjara yang pengap, akibat melakukan tindakan-tindakan kriminal yang merugikan dirinya dan orang lain dsb. Ujung-ujungnya, ia tidak akan melakukan tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan dirinya sendiri, karena tahu itu menyakitkan sekali.
Hal yang tidak kalah urgentnya adalah menyuguhkan ajaran keislaman yang amplikatif dan tidak sekedar hafalan, tiori dan semacamnya saja. Seharusnya Islam di upayakan untuk di terapkan dalam keseharian, sehingga anak-anak tahu esensi agama itu. dalam lingkungan terdekatnya, seperti orang tua dan sekolah-sekolah sudah semestinya mencontohkan aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya cara bergaul dengan sesama teman, cara menghormati pendapat orang lain dsb, jika perlu sampai pada cara bangun tidur, makan, belajar, bertingkah laku, sampai tidur lagi.
Dengan cara itu ajaran Islam akan lebih tertanam di dalam jiwa dan pikiranya, sehingga otomatis menjadi filter bagi dirinya sendiri. Berdasarkan nilai Islam ia telah membuat standar moral dalam grafik keseharianya. Ia bisa memutuskan sendiri apakah sesuatu itu benar atau tidak, menurut syar’i atau tidak. Dengan demikian kemanapun ia pergi untuk bergaul, Islam tetap menjadi filter terbaik baginya.
Kepercayaan & Doa
Sangat urgent bagi anak untuk merasa dirinya di percaya, menjalani kehidupannya sendiri, kepercayaan membuat anak merasa dihargai. Kesadarannya pun akan muncul terhadap kepercayaan yang merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkannya pada orang tua. Bayangkan kalau kepercayaan tidak ada, tanpa kepercayaan kita akan menghabiskan banyak waktu untuk menyelidiki, menimbang-nimbang dan mengawasi.
Begitu juga hendaknya anak-anak remaja dan remaji yang sedang tumbuh, peliharalah terus kepercayaan dengan membuat diri layak di percaya hindari hubungan dan tindakan yang menjurus pada hilangnya rasa percaya orang tua pada kita. Dan, kekuatan doa yang begitu dahsyat adalah bekal, sekaligus pelindung utama bagi anak-anak kita. Seperti yang di firmankan Allah Swt dalam Qs Al Baqarah-186
“ Dan apabila hamba-hambaku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang bermohon (doa) pada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, maka hendaklah mereka beriman pada-Ku agar mereka berada dalam kebenaran”.
Serta selalu menumbuhkan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa kita, tentu dengan dilandasi iman dan taqwa pada-Nya seraya mematuhi segala perintah dan menghentikan segala laranga-Nya. Ingat ketulusan dan keikhlasan doa orang tua sangat menentukan keselamatan anaknya dan Insya Allah akan dikabulkan oleh yang maha kuasa dan maha mengawasi.
Jadi, selama kita telah berupaya seoptimal mungkin menyiapkan anak-anak menuju pergaulannya, sekarang tinggal yakinkan diri kita bahwa Allah juga menjaga mereka ( Tawakalltu Allala ). Hingga kemudian kita tidak akan cemas, khawatir yang berlebihan lagi terhadap segala bahaya yang akan mengancam mereka. Allah Huu A’llam…

Melatih lahir dan Bathin. Ibadah puasa Ramadhan khususnya yang diwajibkan kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad Saw adalah bulan latihan didalam mengendalikan hati dan pikiran manusia dari segala aspek kehidupan yang cendrung pada sifat monopoli dan menguasai. Pada dasarnya ibadah puasa tidak hanya berfungsi untuk menahan dan menyetir hawa nafsu, seperti nafsu makan, minum, nafsu amarah, nafsu ingin berkuasa dsb.


Tetapi amalan yang satu ini lebih difokuskan pada penyetiran pikiran plus hati nurani agar tetap berada pada garis prinsip berfikir yang berdasarkan ajaran Islam. Disinilah letaknya keunggulan puasa Ramadhan satu bulan penuh disamping puasa-puasa sunah lainnya. Dijelaskan, bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan latihan dalam konteks pengendalian dan melatih diri lahir bathin, terhadap nafsu duniawi yang berlebihan, boros, serakah, sombong angkuh dan takabur.
Berpuasa pada bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, dan ini tidak dapat dirasakan kalau kita menjalankan ibadah puasa bukan pada bulan suci ini. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “Mansama Ramadhana Imanan wahtisaban qufirallahu mathaqadam minzambih”. Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “( HR. Bukhari ).
Hadis Rasulullah Saw diatas harus terus kita pelajari dan pahami untuk selanjutnya diampikasikan terutama selama bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan. Hadis Beliau Saw tersebut mengatakan bahwa siapa saja berpuasa yang dilandasi dengan keyakinan akan adanya balasan pahala, dan tulus mengharapkan keridhaan Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosa dan perbuatan salah yang pernah dilakukanya.
Namun, hal ini bukan berarti selepas bulan Ramadhan nanti kita bebas lagi melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Puasa adalah suatu bentuk latihan akan keadaan lahir dan bathin kita, selama satu bulan penuh untuk menghadapi sebelas bulan yang akan datang. Bagaimana kita mampu mengendalikan diri, menahan emosi, sabar, ikhlas dsb selama bulan Ramadhan tersebut.
Dimana bulan penuh rahmat ini dan penuh dengan toleransi antar umat Islam yang waktu itu sama-sama berpuasa. Hal ini akan menjadi lain selepas bulan puasa dan Idul fitri nanti, dimana kesibukan kita didalam menyelesaikan segala persoalan hidup mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dan tak jarang membuat kita lupa pada apa-apa yang diajarkan atau yang didapat selama bulan Ramadhan tersebut.
Untuk itu, agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan selalu berbekas pada tingkah laku kita sehari-hari, dengan harapan akan terlahirnya akhlak karimah melalui latihan diri sebulan penuh. Maka, sangat perlu sekali kita mengetahui bagaimana akhlak orang berpuasa tersebut diantaranya. Orang yang berpuasa itu pertama sekali harus ikhlas, karena keikhlasan yang tinggi akan memicu lahirnya nilai keimanan yang kuat dan kokoh dengan satu landasan yang menjadi esensi dari ibadah khusus ini yaitu Iman danTaqwa.
Dan hal ini telah dirangkum oleh Allah Swt dalam Qs Al Baqarah-183 “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa “. Keikhlasan dalam berpuasa harus mampu membawa dan membimbing hati kita sendiri yang dilakukan semata karena perintah dari sang khalik sehingga menjadi suatu kewajiban untuk menjalankannya dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan.
Selain ikhlas kita pun harus selalu jujur didalam menjalankannya, karena ibadah puasa ini sifat dan bentuknya abstrak atau tidak bisa dilihat. Dibulan Ramadhan orang yang mengaku beriman dan bertaqwa wajib melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat. Lalu apakah setiap orang yang berpuasa sudah bisa dikatakan beriman dan bertaqwa ?, sementara segala apa yang dilarang selama bulan itu tidak diindahkanya ?.
Mari tanyakan hati nurani kita masing-masing apakah diri kita sudah termasuk kedalam orang-orang seperti apa yang dikatakan Allah dalam Qs Al Baqarah ayat 183 diatas dan selalu menjaga eksistensi dari puasa itu sendiri. Jawabanya adalah kejujuran terutama dalam menjalankanya, jujur pada Allah dan jujur pada diri sendiri serta selalu memahami bahwa Allah itu maha mendengar dan maha melihat, Dia berkuasa sekali terhadap segala sesuatu.
Selain itu kesabaran yang tinggi juga tidak kalah pentingnya, karena kebanyakan yang selalu megurangi nilai dari ibadah puasa itu sendiri dimata Allah adalah tidak bisa menahan amarah. Hal ini kalau terus dipelihara akan memicu pula lahirnya sifat-sifat tercela lainnya. Hal inilah yang sangat dikawatirkan Rasulullah Saw.
Beliau mengatakan betapa banyak orang yang melaksanakan ibadah puasa ini namun tiada yang diperolehnya kecuali hanya lapar dan dahaga saja. Agar kekhawatiran dari Rasulullah Saw ini tidak menimpa diri kita dan nilai dari ibadah puasa tersebut dapat kita raih dengan nilai yang terbaik dari Allah yaitu Iman dan Taqwa tadi. Maka iringilah ibadah puasa itu dengan niat yang ikhlas dan selalu berusaha untuk mengendalikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat dari segala hal-hal yang akan merusak atau membatalkan puasa tersebut.
Didalam menjalankan ibadah puasa kita sebagai muslim / muslimah harus tetap menjalankan aktifitas dan selalu menumbuhkan etos kerja yang tinggi sebagai mana hari-hari diluar bulan Ramadhan. Dengan kata lain jangan dijadikan bulan penuh rahmat ini sebagai ajang untuk berleha-leha dalam bekerja dan berusaha. Salah satu dari sekian banyak ajaran puasa yang harus selalu kita amplikasikan dalam kehidupan ini adalah lahirnya etos kerja yang mantap, komitmen yang kuat dalam setiap mengambil keputusan yang berkepribadian muslim sejati. Maka, jadikanlah bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah ini sebagai sirkuit untuk perbaikan diri, peningkatan ibadah, introspeksi diri dengan menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat ( mutawazun ).
Al Quran menerangkan bahwa hawa nafsu merupakan sesuatu yang melekat dalam setiap diri manusia.tak jarang hawa nafsu ini menyeret manusia kearah keburukan, sehingga setiap orang bagaimanapun harus mampu mengendalikannya kearah yang benar dan bermanfaat. Didalam Qs Al Jatsiyah-23 Allah berfirman “ Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya?. Dan Allah membiarkanya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya. Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah ( membiarkanya sesat ). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran “.
Berdasarkan firman Allah diatas menerangkan bahwa orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya sangat dimurkai Allah, bahkan bahaya dan dosanya disamakan oleh Allah dengan orang yang menyembah berhala. Nauzubillah min zhalik. Disebabkan karena nafsu ini mengandung ketertarikan syahwat dan hanya untuk mencari dan menemukan kelezatan lahir maupun bathin belaka. Sehinga Setan dan Iblis dengan mudahnya membujuk dan merasukinya untuk melakukan hal-hal yang tercela.
Maka, salah satu jalan terbaik yang diajarkan agama Islam pada umatnya guna mengendalikan dan membentengi diri dari desakan hawa nafsu ini adalah dengan melakukan ibadah khusus yang diberikan Allah sebulan dalam dua belas bulan yang kita lalui yaitu As Syiaamu atau berpuasa sebulan penuh.
Apabila nafsu manusia mengikuti syahwatnya maka itulah yang disebut nafsu amarah yaitu nafsu yang menyuruh manusia pada keburukan dan kejahatan, apabila nafsu itu telah melakukan perbuatan buruk tadi maka hadirlah nafsu lawamah yaitu. Nafsu yang suka mencela atau mengecam.dan apabila nafsu itu telah menyesal dan menyadari dosa dan kesalahanya maka perasaan menyesal itu keluar dari nafsu Mutma’inah yaitu. Nafsu yang selalu tenang dan tentram. Nafsu inilah yang telah diberi rahmat dan diberkati oleh Allah Swt.
Dan sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap insan untuk memeliharanya dari kejaran dan rongrongan dua nafsu jahat diatas ( nafsu amarah dan lawamah ). Didalam Qs Yusuf-53 Allah berfirman “ Dan Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan karena sesungguhnya itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dibei rahmat oleh tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun dan maha penyayang”. Mari kita jadikan satu bulan penuh ini sebagai bulan untuk melatih lahir dan bathin kita dari kejaran dan rongrongan hawa nafsu yang terlalu over dan berlebih-lebihan selama ini semoga Allah selalu memberi kita petunjuk dan semangat didalam melatih lahir dan bathin kita guna menghadapi hari-hari berikutnya. Berbagai sumber.

Menghargai Waktu dan Umur.



Rasulullah Saw memberikan peringatan pada umat islam khususnya agar tidak mencaci – maki waktu dan keadaan,keduanya ini adalah pemberian tuhan yang wajib kita hargai. Sebuah ungkapan yang memberikan dasar pemikiran agar setiap muslim mampu merenung dan terjun dalam rangkaian waktu mengisinya dengan aneka perilaku terpuji,amar ma’ruf nahi mungkar.
Jangan sia-siakan pemberian Allah ini (waktu dan umur) karena dengan mengisi waktu akan mendayagunakan umur, dengan ini seorang akan mampu mengukir hidupnya dengan berbagai macam kreatifitas yang berarti. Namun, kalau dilihat dari rangkaian waktu yang diberikan dengan cuma – cuma ini, alangkah meruginya manusia yang tidak pandai mempergunakannya dengan sebaik-baiknya,baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga, masyarakat,agama sampai pada bangsa dan negara tempat dia bernaung.
Berfirman Allah dalam qs al ashr 1-3 “ Demi massa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati supaya menetapi kesabaran”. Sumpah Allah diatas menerangkan bahwa manusia yang tidak mau mempergunakan massa (waktunya) dengan sebaik-baiknya,bukan diatas dunia ini saja diakhiratpun manusia itu akan ditimpa kerugian.
Nyata berbagai bentuk kerugian sudah melanda kehidupan sebahagian besar manusia di zaman moderen sekarang ini kebanyakan dari mereka terlalu dilarutkan dalam pencarian informasi guna mempercepat akses di segala bidang dan usaha, sayangnya waktu untuk Allah pun sering kali terabaikan bahkan ditinggalkan. Padahal islam megajarkan pada umat manusia khususnya kaum mukmin / mukminat untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dunia (bekerja) dengan kebutuhan akherat (ibadah).
Merugi,tidak ada manusia yang bermimpi untuk mengalaminya apalagi kerugian itu bersifat abadi. Agar hidup kita tidak selalu merugi seperti yang di firmankan Allah dalan surat Al Ashr di atas,Rasulullah Saw memberikan untuk kita agar selalu pergunakan secara baik lima perkara yang di berikan Allah sebelum datang lima perkara lainnya sebagai penghalang.
1. Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu.
2. Pergunakan kayamu sebelum datang miskinmu.
3. Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu.
4. Pergunakan senggangmu sebelum datang masa sempit.
5. pergunakan hidupmu sebelum datang ajalmu.
Kelima perkara tersebut di satu pihak menunjukan pada kita akan perubahan kondisi didalam proses berjalannya sang waktu,sebagai peluang untuk berbuat dan menaburkan amal kebaikan. Sementara di pihak lain akan pupusnya peluang tersebut untuk berbuat amal kebaikan jikalau nyawa sudah berpisah dari badan.
Demikian pentingnya waktu (masa) ini yang membatasi manusia dalam menjalankan kehidupannya,hanya akan memberikan manfaat dan keberuntungan jika, manusia itu tidak bersikap apatis,acuh tak acuh dan hanya diam menunggu untuk mendapatkan rahmat,karunia dan ridha Allah Swt.
Dengan kata lain keselamatan, kebahagiaan,kesejahteraan dan ridha Allah itu harus dicari secara proaktif dan kreatifitas tinggi,yang salah satu bentuk usahanya adalah selalu mempelajari akan ilmunya terutama yang berkonotasi langsung dengan kehidupan akhirat. Selain itu harus juga didorong oleh motivasi kerja yang tinggi apalagi dimasa muda yang penuh enerjik ingatlah .” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “.(qs al mujadalah :11). “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi orang islam laki-laki dan perempuan”. ( Hr. Ibnu Adi & Baihagi ). “
” Didiklah jiwamu dengan ilmu yang bermanfaat, maka ia akan mempertinggi derajatmu, sesungguhnya jiwa itu bagaikan kaca dan akal pikiran bagaikan lampunya, sedangkan hikmah (kebijakan) Allah laksana minyaknya. Apabila ia bercahaya, maka dirimu akan menjadi hidup dan apabila ia padam,maka dirimu akan seperti mati”.(al hadis)
Firman Allah SWT dan hadis Rasulullah SAW diatas mengharuskan pada manusia untuk terus mengeksplorasi, mencari dan terus mencari ilmu pengetahuan dan tekhnologi demi untuk kelangsungan hidup dunia dan akhirat. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini harus pula melengkapi dirinya dengan berbagai aneka ilmu yang bermanfaat. Agar setiap langkah yang kita ayunkan dan setiap nafas yang kita hembuskan selalu terisi dengan hal-hal yang bermanfaat.
Demikian pula harus diupayakan sedemikian rupa, pada waktu kita diberi kesehatan, waktu senggang, kekayaan bahkan selama di beri-Nya kehidupan untuk selalu berada pada tingkatan yang terbaik menurut aturan yang digariskan agama islam. Apabila datang lima perkara yang di katakan Rasul SAW diatas, akan sangat banyak hambatan, sementara sang maut sering datang tak pandang waktu.
Untuk itu harus di tekankan lagi dalam setiap jiwa umat islam,mengenai usaha untuk mengejar keselamatan dan kebahagiaan negeri akherat, yang harus ditunaikan dengan mengerjakan perintah dan menghentikan larangan Allah SWT, baik dalam keadaan sehat maupun dalam kondisi sakit, sewaktu kaya atau miskin, dalam keadaan senggang atau sempit, sejak muda hingga tua dan sebelum kematian datang menjemput.
Rasulullah Saw diatas menekankan pada kita untuk selalu yakin dalam berusaha memenuhi kebutuhan dunia, dengan tetap berlaku sabar dan tawakal penuh pengharapan dalam meraih ridha Allah, guna kebutuhan rohani yang muaranya adalah kehidupan negeri akherat.
Allah Swt menciptakan manusia dalam keadaan seimbang yang sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri untuk hidup dan beribadah pada-Nya. “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat maka berjalanlah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah perdagangan itu. Demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka,apabila shalat itu telah selesai, bertebaranlah kamu dimuka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. (qs al jumuah : 9-10 )
Allah Swt menerangkan lewat firmanya di atas bahwa apabila dikumandangkan azan atau perintah untuk beribadah maka, kita wajib meninggalkan urusan atau pekerjaan yang berhubungan dengan urusan duniawi untuk mengikuti seruan suci (azan) untuk mengingat Allah dengan penuh kesadaran,keikhlasan dan kekhusyukan,inilah keseimbangan yang dimaksud.
Kalau hal ini telah menjadi prioritas utama dikerjakan dengan,ikhlas oleh setiap pribadi umat islam, sesibuk apapun pekerjaan yang sedang berlangsung tidak akan mempengaruhi semangatnya untuk beribadah. Dan Insya Allah kita tidak akan tercatat kedalam golongan orang-orang yang merugi,dengan selalu mengisi setiap lorong waktu dengan amal ibadah,serta senantiasa mengambil iktibar / hikmah dari setiap kejadian,bencana maupun musibah di atas dunia ini.

Tidak ada komentar: