Selasa, 18 Januari 2011

SELAMATAN BUKAN BID,AH

Seringkali aktifitas Nahdiyyin dicap sebagai perbuatan bid’ah seperti selamatan 7 hari, haul dan menyatakan haul dan lain-lain. Adakah penjelasan ulama yang menyatakan haul dan selamatan 7 hari dan seterusnya bukan tergolong bid,ah yang sesat? Apakah bacaan tahlil dan seterusnya pahalanya dapat samapai kepada orang sudah meninggal?
Sebenarnya yang disunahkan ketika ada muslim yang meninggal, justru para pelayat yang membawa makanan untuk keluarga yang ditinggalkan, bukan sebaliknya, namun demikian, apabila keluarga yang ditinggal mengundang para tetangga atau sanak saudara dalam waktu-waktu tertentu, seperti tujuh hari empat puluh hari, untuk berkumpul membaca ayat-ayat Al-quran,tahlil,dan lain-lain, kemudian disajikan hidangan, yang kesmua pahalanya dihadiakan kepada yang meninggal, tentu diperbolehkan sampai kepada yang meninggal. Bukankah bacaan aqur’an tahlil dan bersedekah,menyajikan sungguhan untuk para tamu adalah bagian dari amal ibadah ? Dalam sebuah Hadist dinyatakan :
Dari Anas RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya seseorang, “Wahai Rosulullah SAW, kami bersedekah dan berhaji yang pahalanya kami peruntukkan orang-orang kami yang telah meninggal dunia dan kami berdoa untuk mereka,apakah pahalanya sampai kepada mereka? “Rosulullah SAW menjawabIya pahalanya betul-betul sampai kepada mereka dan mereka sangat merasa gembira sebagai mana kalian gembira apabila menerima hadiah. HR Abu hafash Al-Akbari. Lebih-lebih apabila diserta untuk menghindari gunjingan para tetangga atau sanak saudara jika tidak diadakan selamatan.
Menurut Syekh Ismail “Usman Zayn al-Yamani al makki, kegiatan selamatan untuk orang yang meninggal sebagaimana diatas disebut wadlimah.
Yang sangat perlu diperhatikan jika akan mengadakan selamatan, apabila salah satu ahli waris terdapat anak yang masih belum baligh atau yang tidak normal akalnya, biaya selamatan tidak boleh diambil dari harta warisan yang belum dibagi sesuai dengan hokum islam, sebab didalam harta tersebut masih terdapat haknya anak kecil, kecuali apabila yang meninggal telah berwasiat agar ia diselamati, maka dapat diambil dari harta peninggalanya, walaupun terdapat anak yang masih belum baligh atau tidak normal akalnya, dengan syarat, biaya yang dikeluarkan tidak melebihi sepertiga dari keseleruhan harta warisan.
Adapun ketentuan waktu tujuh hari, empat puluh hari dan seratus hari, setahun, sebagaimana tradisi di Indonesia, tidak terdapat keterangan khusus dalam islam. Demikian sebagaimana yang difatwakan oleh sayyid alwi al-maliki Al-Hasani dalam kitab kumpulan difatwanya.
Oleh karenaya seharusnya bagi warga Nahdiyyin untuk tidak meyakininya sebagai amalan khusus yang terkait dengan waktu. Dan bias dilakukan kapan saja meskipun tidak tepat dengan hitungan hari atau bulan kematian orang yang diselamati.KH.Ali mashum meningkatkan, bahwa persoalan mengenai selamatan dan tahlil adalah khilafiyah perbedaan pendapat para ulama ahlussunnah waljamaah) yang semestinya tidak perlu dibesar-besarkan. Beliu menulis :”Masalah ini aadalah bagian dari masalah furu’ (fiqh) yang menjadi perbedaan pendapat para ulama, maka tidak boleh mengakibatkan timbulnya fitnah, perdebatan, dan inkar kepada yang mengamalkan atau yang tidak mau mengamalkan, dan tidak selayaknya diantara mereka terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diatara sesama saudara Muslim, Dan kalaupun bagi yang tidak mau mempunyai dasar sandaran hokum, maka bagi yang lainyapun juga mempunyai landasan hukum”kalian

Tidak ada komentar: