Selasa, 17 Februari 2015

Danramil 0804/08 Barat Sebagai Irup upacara 17san Bulan Pebruari 2015

Danramil 0804/08 Barat Sebagai Irup upacara 17san Bulan Pebruari 2015

Magetan Selasa, 17 Pebruari 2015 Kodim 0804/Magetan bertempat di lapangan apel Makodim 0804/Magetan, telah berlangsung Upacara Bendera tujubelasan, sebagai irup Danramil 0804/08 Barat Kapten Inf Sapuan, Komandan Upacara Danramil 0804/07 Karangrejo Kapten Inf Efendi Santoso, peserta upacara seluruh personel Kodim 0804/Magetan. 

Bertindak sebagai Inspektur upacara Danramil 0804/08 Barat Kapten Inf Sapuan Komandan Upacara Danramil 0804/07 Karangrejo Kapten Inf Efendi Santoso, peserta upacara seluruh personel Kodim 0804/Magetan. 

Perwira upacara Kapten Inf Misran pembawa acara Sertu Kowad RAtna A Pembacaan Teks UUD 1945, Pembacaan tek UUD 1945 Sertu Hadi, Pengucap Sapta Marga, Pengibar Bendera Serma Lugito, Serma Haryanto Sertu Edi Wiyono ” urusan komunikasi Pelda Maryadi pembaca Panca Prasetya Korpri, PNS Tasmin, dalam upacara 17san tersebut  Danramil 0804/08 Barat Kapten Inf Sapuan, Sebagai Irup membacakan amanat Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Gatot Nurmantyo sbb :
Mengawali upacara pada pagi hari ini, marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat, dan ridho-Nya, pada hari ini kita dapat mengikuti Upacara Bendera 17-an bulan Februari 2015, dalam keadaan sehat wal ’afiat.
Pada kesempatan yang membanggakan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada segenap Prajurit dan PNS TNI AD yang terus berupaya memberikan darma bakti terbaiknya kepada Bangsa dan Negara. Di tengah tantangan tugas yang tidak semakin ringan, para Prajurit sekalian tetap dapat menjaga soliditas, kerja sama dan semangat pantang menyerah dalam melaksanakan tugas-tugasnya, baik di seluruh pelosok wilayah tanah air, di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar, maupun dalam melaksanakan tugas menjaga perdamaian dunia di berbagai penjuru dunia. 
Para Peserta Upacara sekalian yang saya hormati,
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pangan merupakan salah satu komoditas yang sangat penting dan strategis bagi keberadaan sebuah negara. Pengalaman menunjukan bahwa permasalahan yang terkait dengan pangan dapat menjadi pemicu bagi krisis yang berujung pada kehancuran sebuah negara. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia, dan tentu saja meningkatnya kebutuhan pangan secara sangat tajam belakangan ini, maka nilai strategis pangan juga akan semakin meningkat.
Pada tahun 2008, misalnya, ketika banyak sekali bahan pangan diubah menjadi bahan bakar, terjadilah krisis harga pangan yang sangat parah, terjadi kenaikan harga pangan hingga mencapai 75 persen. Banyak negara yang kemudian harus mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat krisis harga pangan ini. Dengan perkembangan ini, dapat diperkirakan bahwa cepat atau lambat, bahan pangan akan mulai menjadi sumber perselisihan atau setidaknya menjadi pemicu konflik antar negara. 
Kecenderungan seperti itu, tentu harus menjadi perhatian kita bersama, terlebih bagi Indonesia yang merupakan negara agraris. Bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan pangan dunia, maka sangat mungkin negara dengan masyarakat agraris pada saatnya akan menjadi sasaran negara-negara lain, dan akan menjadi target untuk diserang, dihancurkan dan dikuasai. Salah satu upaya untuk menguasai negara agraris, adalah dengan cara mengalihkan negara agraris itu menjadi negara industri. Pada saat yang sama juga dibangun ketergantungan negara industri ini kepada negara-negara industri lainnya.

Pada kondisi yang demikian itu, maka sangat mudah untuk menghancurkan negara tersebut. Hanya dengan menerapkan embargo pada negara industri yang sudah tidak memiliki sumber pangan tersebut, maka ketahanan ekonomi dan pangannya menjadi rapuh. Apabila kondisi ketahanan ekonomi dan pangan sudah hancur, maka ketahanan nasional akan rapuh. Apabila ketahanan nasional rapuh, maka tunggulah saatnya kehancuran akan melanda keberadaan Bangsa dan Negara tersebut. 

Berdasarkan pemikiran di atas, maka swasembada pangan menjadi sangat penting dan mendesak untuk dapat diwujudkan di Indonesia. Dalam kaitan itu pula, atas perintah Presiden RI, TNI AD telah  melaksanakan berbagai bentuk kerja sama dengan kementrian dan instansi terkait dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah dalam mencapai swasembada pangan. Tidak hanya dalam rangka menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi juga  sebagai upaya untuk menjaga dan memelihara ketahanan nasional dan tetap tegak-kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Para Prajurit dan PNS TNI AD yang saya cintai.
Sebagaimana telah saya sampaikan pada berbagai kesempatan, di tengah-tengah kehidupan bangsa dan negara saat ini, kita melihat indikasi kuat berkembangnya proxy war. Ancaman proxy war ke depan menjangkau pula persoalan energi, pangan, air, narkoba dan lain sebagainya. Saat ini yang tengah kita alami adalah indikasi berkembangnya „tangan-tangan‟ atau
„kekuatan-kekuatan‟ tersembunyi yang dilatarbelakangi oleh berbagai kepentingan, dengan tujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.
Dalam sejarah panjang pergolakan dunia, kita mencatat bahwa kekuatan-kekuatan tersembunyi banyak berpengaruh terhadap kehancuran suatu Negara dan Bangsa. Kehancuran Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur pada akhir perang dingin beberapa tahun lalu, misalnya, adalah bukti nyata yang tak terbantahkan adanya kekuatan tersembunyi yang berperan dalam meluluhlantakkan negara-negara di kawasan tersebut. 
Dewasa ini sudah mulai kita rasakan adanya proxy war di Indonesia. Ada kekuatan yang hendak melemahkan kita, dengan mengadu domba, memprovokasi dan menyebar fitnah lewat media massa dan media sosial, untuk terus menerus berupaya memecah belah Bangsa Indonesia. Gejala-gejala tersebut dapat dilihat melalui berbagai bentuk pemberitaan media yang provokatif, peredaran narkoba, penyebaran pornografi dan seks bebas, tawuran pelajar, perang antar kelompok dan masih banyak lagi lainnya.  
Ancaman proxy war, dalam konteks kepentingan nasional Bangsa Indonesia, harus terus diwaspadai dan disikapi secara bersungguh-sungguh. Berbeda dengan perang fisik di era perjuangan kemerdekaan dulu, perang jenis baru ini tidak sepenuhnya terlihat secara fisik, namun dampak penghancurannya lebih luas. Bahkan tanpa kita sadari, ancaman dan bahaya proxy war ini langsung menerobos masuk dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa ini, hingga ruang-ruang pribadi di rumah kita masing-masing. 
Jika kita ingat kembali sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia mulai jaman kerajaan hingga terbentuknya NKRI, menunjukan dengan jelas bahwa “kekuatankekuatan tersembunyi” lah yang berhasil menghancurkan eksistensi bangsa dari dalam, bukan melalui invasi besar musuh secara terbuka. Sebagai Bangsa pejuang yang telah banyak mengalami pasang surutnya perjuangan, kita tidak boleh terlena dalam situasi yang dapat mengancam keutuhan NKRI ini. Mari kita bangkit dan melawan terhadap segala bentuk proxy war yang terjadi di negeri ini.
Jajaran TNI AD berkomitmen untuk terus berjuang bersama seluruh komponen bangsa menghadapi ancaman dan bahaya proxy war ini. Dalam kaitan itu, kepada seluruh Prajurit TNI AD saya perintahkan agar senantiasa membentengi diri, keluarga dan juga satuan masing-masing, dari pengaruh dan ancaman bahaya proxy war. Perkuat iman dan taqwa kepada Tuhan YME, jaga soliditas satuan, serta jadikan selalu Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI sebagai landasan dalam berpikir, berbuat dan bertindak dalam kehidupan para Prajurit sekalian.  
Marilah kita pedomani pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang disampaikan puluhan tahun yang lalu, yang masih tetap sesuai untuk kita terapkan dalam menghadapi bahaya dan ancaman proxy war. “Janganlah mudah tergelincir dalam saat yang akan menentukan nasib bangsa dan negara kita, seperti yang kita hadapi pada dewasa ini, fitnah yang besar atau halus, tipu muslihat yang keras atau yang lemah, provokator yang tampak atau sembunyi, semua itu insya Allah dapat kita lalui dengan selamat, kalau saja kita tetap awas dan waspada, memegang teguh pendirian cita-cita, sebagai patriot Indonesia yang sejati.”
Selanjutnya melalui kegiatan “Serbuan Teritorial”, saya perintahkan kepada jajaran TNI AD agar tidak hanya menjadikannya sebagai wahana untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat, tetapi jadikan pula sebagai sarana untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat. Suatu kondisi yang sangat penting untuk mewujudkan TNI AD yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Ingat, rakyatlah yang menjadi inti kekuatan TNI. Ketika kita dapat mewujudkan hal ini, saya yakin kita akan dapat melawan dan mengatasi setiap tantangan dan ancaman, bahkan kita akan dapat menghancurkan musuh bangsa dan negara yang paling kuat sekalipun.
Akhirnya, pada kesempatan yang sangat baik ini, marilah terus kita gelorakan semangat dan upaya mengingatkan segenap komponen bangsa, utamanya para pemuda, tentang bahaya dan ancaman tersembunyi ini. Pada saat yang sama, mari kita perkokoh jati diri dan kepribadian bangsa, sebagai daya tangkal yang tangguh dalam menghadapi proxy war di seluruh wilayah tanah air, demi tetap tegaknya dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para Peserta Upacara sekalian yang saya hormati,
Demikian amanat saya pada kesempatan upacara bendera tanggal 17 Pebruari 2015. Akhirnya saya ucapkan Selamat Bertugas kepada segenap Prajurit dan PNS TNI AD dimanapun bertugas dan berada.
“Berbuatlah yang Terbaik, Berani, Tulus dan Ikhlas”
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita dalam melanjutkan pengabdian kepada TNI AD, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai.  
Pembaca UUD 1945,Sapta marga dan Pembaca Korpri

Anggota Makodim Ikuti Up 17san Peb 2015

Irup Bacakan amanat Kasad up 17san Peb 2015



Tidak ada komentar: